Dalam Al-Quran... manusia sering diibaratkan sebagai sebuah wadah (An-nafs).... Tentu saja banyak ibroh yg bisa dipetik dari makna An-nafs tersebut.....
Misalkan sebuah wadah kapasitasnya 10 kg.... jika diisi dengan 10 item... maka berat masing-masing item adalah 1 kg...
Bandingkan pula dengan wadah lainnya yang diisi dengan 5 item... maka jelas saja nilai masing-masing item di dalamnya adalah seberat 2 kg.....
Dari perumpamaan di atas... kita disodori suatu hukum tentang kesederhanaan..... semakin banyak dan beragamnya item dalam suatu wadah maka semakin kecil nilai masing-masingnya.... Gambaran tentang kecilnya nilai setiap item itulah yang merupakan makna hakiki dari "kesederhanaan"
Ambilah kasus seorang presiden di negera antah berantah.... beliau berpendapatan 20 juta per bulan.... dari pendapatannnya itu dia beli helikopter... dia beli sedan anti peluru yang mahal... dia beli tenaga ahli yang bisa mengurusi benda-benda mahal itu... zakat.. shodaqoh... infak dan sebagainya....dan sebagainya .... pendek kata taruh saja ada 240 item pembelanjaan yang dilakukan oleh seorang presiden per bulannya... jadi jika dipukul rata maka nilai dari masing pembelanjaannya adalah 20 juta dibagi 240 item = sekitar 83 ribuan... Jika diantara 240 item tersebut salah satunya adalah sisa gaji... maka sisa gajih sang presiden per bulan hanyalah 83 ribuan.... sangat kecil bagi ukuran seorang presiden.... tapi disanalah wujud kesederhanaan seorang presiden... mau tahu kenapa demikian??
simaklah profil pembelanjaan dari si bandar jengkol berikut ini:
Ada seorang bandar jengkol dipasar Caringin Bandung.... laba penjualannya yang dia kelola taruhlah senilai 2 jutaan per bulan.... dia belanjakan labanya itu "hanya" ke dalam 5 item saja... misalnya biaya anak sekolah...biaya bensin bagi pick-upnya... biaya makan sehari-hari...biaya entertainment.... dan biaya tuk jatah preman di lingkungan pasar Caringin.... jika dipukul rata maka nilai masing-masing item pembelanjaannya adalah sebesar 2 juta dibagi 5 = 400 ribuan....
jika dibandingkan dengan seorang presiden yang memimpin negara si bandar jengkol.... maka pembelanjaan si bandar jengkol jelas lebih mewah dari seorang presidennya.... Tuk makan per-bulan saja dia habiskan 400 ribuan... sangat mewah dibanding presidennya yang hanya 83 ribuan....
Itulah sekelumit makna hakiki dari "kesederhanaan" yang dicontokan oleh rasululloh....
Walaupun rasul seorang pengusaha sukses....pedagang yang sukses hingga dengan kesuksesannya beliau mampu berqurban dengan ratusan unta....berzakat demikian hebatnya.... bersedqah demikain inten-nya.... maka kenapa di akhir hayatnya Rasululloh tidak bisa mewariskan harta material yang berlimpah bagi anak cucunya??.....
Jawabannya adalah .... Rasululloh membelanjakan harta yang diperoleh dari kesuksesannya berdagang ... ke dalam beribu-ribu item pembelanjaan untuk kemaslahatan ummat yang dipimpinnya.... termasuk pula untuk pembelanjaan kemaslahatan bagi diperolehnya bekal tuk kehidupan sesudah kematian,,,, sehingga sangat sedikit kemudian nilai masing-masing item pembelanjaannya ... termasuk hanya sekedarnya saja pembelanjaan tuk mewariskan harta material bagi anak cucunya..... Subhanalloh..... Itulah teladan kesederhanaan yang sejati... dimana untuk hidup sederhana sebenarnya harus kaya raya..... semoga bermanfaat
Selasa, 09 Februari 2010
Awal Rasa Syukur
Ketika lahir ke dunia fana ini .....Indera manusia yang pertama kali berfungsi normal adalah "telinga"
Maka disunahkan untuk membacakan Adzan dan Iqomah... bagi bayi yang baru dilahirkan
Seiring dengan tumbuh kembangnya sang bayi.... maka kemampuan melihat oleh mata kemudian berfungsi seperti layaknya manusia normal.... Hari berganti hari... minggu berganti minggu... dan bulan berganti bulan.... maka sangatlah jarang dan bahkan tidak ada bayi yang ujug-ujug "briliant nalarnya".
Maka begitu berarti-kah hakikat suatu nalar? ...dalam mengapai rasa syukur dalam diri seorang manusia?... tentu saja tidak.... sebab segala sesuatu tentang pengetahuan untuk bersyukur yang diterima oleh seorang manusia bukanlah diawali oleh daya nalar..... tetapi semuanya diawali oleh indra pendengaran, penglihatan dan hati (fuad) untuk mengenal dan melaksanakan perasaan bersyukur.
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS An-Nahl [16]:78).
Lalu bagaimanakah manusia yang brilian nalarnya "tiba-tiba" menjadi insan yang tidak dapat bersyukur?...... jawabnya adalah ketika manusia tersebut mulai menggunakan "untaian tulisan" untuk memperoleh pengetahuan bagi nalarnya.... Mengapa demikian?....
Demi suatu kemampuan nalar yang briliant maka seorang anak manusia harus diajari kemampuan tulis-baca sejak dini....
Dan setelah nalarnya briliant karena didukung kemampuan baca-tulis... apakah dengan serta merta dia akan dapat dengan mudah bersyukur?..... jawabnya pasti tidak..... dan kemampuan "nalar nan briliant" ternyata bukanlah sarana untuk mencapai suatu perbuatan syukur.... bahkan pada dasarnya kemampuan nalar seorang manusia cenderung mendorong seseorang untuk kufur (menutupi) karena mampu menutupi fenomena "nikmat Alloh" di hadapannya ...gara-gara diungkapkan dan direkamnya "hamparan nikmat Alloh" dalam ujud untaian tulisan semata. Atau dengan kata lain atas kebrilianan nalar hasil baca-tulis maka cenderung mendorong seseorang untuk membutakan mata hatinya (fuad) karena "terlatih" untuk menjelmakan Kenikmatan kedalam bentuk untaian tulisan saja yang "pasti" berbeda dengan fenomena "kenikmatan" secara utuhnya . Maka simaklah fenomena nyata mengenai seorang "buta" berikut ini tetapi tidak buta "fuad"nya
Ada seorang insinyur jenius bernama Ning King Hian yang di masa tuanya ditakdirkan menderita kebutaan.... beliau dengan kebutaannya ternyata masih tetap dapat mengajari anak-anak normal dalam les privat ilmu-ilmu sains dan matematis... Dan kemampuan mengajarnya tersebut tidaklah kalah pamor dengan pengajar yang normal penglihatannya..... Dan dalam kebutaannya pula beliau masih "tetap" dapat menulis di papan tulis untuk mengajari sains dan matematika kepada siswa yang les privat kepadanya..... terkenallah beliau kemudian sebagai seorang guru les privat "tuna netra" satu-satunya di jagat raya ini..... apakah semua syukur nikmat tersebut berawal dari nalar yang dituntun oleh untaian-untaian tulisan?..... tentu dengan menyimak ungkapan-ungkapan "fuad" yang beliau ungkapkan... maka inti dari semua kehebatannya tersebut adalah berawal dari rasa bersyukur atas kebutaan yang ditimpakan kepadanya... yang dengan tegas "rasa syukurnya" tersebut dilahirkan dari fuadnya sebagai salah satu indra untuk bersyukur yang dianugrahkan Alloh SWT kepada seluruh manusia... dan tentu bukan dari nalarnya... karena kemampuan nalar memerlukan "untaian tulisan" sebagai sarana meraih pengetahuan untuk bersyukur.... sementara setelah beliau "buta" maka tak mungkin lagi dapat menerima pengetahuan bersyukur tersebut dari media tulisan.
Maka bandingkanlah dengan sebagian besar manusia "normal penglihatannya" nan jenius.... Insinyur...doktor.. teknorat ...dan profesor.....yang dengan modal nalar nan briliannya tersebut dapat terciptalah berbagai teknologi canggih yang tak pernah dibayangkan sebelumnya..... dan dengan kehebatan teknologi ciptaannya... apakah tiba-tiba memudahkannya "bersyukur" atas anugrah ke-brilianannya?..... Faktanya ternyata dengan teknologi yang diciptakan para jenius dan brilian tersebut maka dunia fana ini lambat laun mendekati kehancuran.... dan inilah salah satu bukti dari "rasa tidak bersyukur" atau kufur nikmat dari kebanyakan manusia yang brilian nalarnya walau dianugrahi hamparan bumi Alloh yang penuh nikmat.... tetapi tak mampu "bersyukur" dengan nalarnya tersebut dalam menjaga bumi Alloh agar tetap lestari dan tetap dapat dinikmati anak cucu kita kelak....malah sebaliknya....dengan teknologi ciptaannya maka dunia perlahan tapi pasti mendekati kehancurannya..... Naudzubillah.
Maka disunahkan untuk membacakan Adzan dan Iqomah... bagi bayi yang baru dilahirkan
Seiring dengan tumbuh kembangnya sang bayi.... maka kemampuan melihat oleh mata kemudian berfungsi seperti layaknya manusia normal.... Hari berganti hari... minggu berganti minggu... dan bulan berganti bulan.... maka sangatlah jarang dan bahkan tidak ada bayi yang ujug-ujug "briliant nalarnya".
Maka begitu berarti-kah hakikat suatu nalar? ...dalam mengapai rasa syukur dalam diri seorang manusia?... tentu saja tidak.... sebab segala sesuatu tentang pengetahuan untuk bersyukur yang diterima oleh seorang manusia bukanlah diawali oleh daya nalar..... tetapi semuanya diawali oleh indra pendengaran, penglihatan dan hati (fuad) untuk mengenal dan melaksanakan perasaan bersyukur.
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS An-Nahl [16]:78).
Lalu bagaimanakah manusia yang brilian nalarnya "tiba-tiba" menjadi insan yang tidak dapat bersyukur?...... jawabnya adalah ketika manusia tersebut mulai menggunakan "untaian tulisan" untuk memperoleh pengetahuan bagi nalarnya.... Mengapa demikian?....
Demi suatu kemampuan nalar yang briliant maka seorang anak manusia harus diajari kemampuan tulis-baca sejak dini....
Dan setelah nalarnya briliant karena didukung kemampuan baca-tulis... apakah dengan serta merta dia akan dapat dengan mudah bersyukur?..... jawabnya pasti tidak..... dan kemampuan "nalar nan briliant" ternyata bukanlah sarana untuk mencapai suatu perbuatan syukur.... bahkan pada dasarnya kemampuan nalar seorang manusia cenderung mendorong seseorang untuk kufur (menutupi) karena mampu menutupi fenomena "nikmat Alloh" di hadapannya ...gara-gara diungkapkan dan direkamnya "hamparan nikmat Alloh" dalam ujud untaian tulisan semata. Atau dengan kata lain atas kebrilianan nalar hasil baca-tulis maka cenderung mendorong seseorang untuk membutakan mata hatinya (fuad) karena "terlatih" untuk menjelmakan Kenikmatan kedalam bentuk untaian tulisan saja yang "pasti" berbeda dengan fenomena "kenikmatan" secara utuhnya . Maka simaklah fenomena nyata mengenai seorang "buta" berikut ini tetapi tidak buta "fuad"nya
Ada seorang insinyur jenius bernama Ning King Hian yang di masa tuanya ditakdirkan menderita kebutaan.... beliau dengan kebutaannya ternyata masih tetap dapat mengajari anak-anak normal dalam les privat ilmu-ilmu sains dan matematis... Dan kemampuan mengajarnya tersebut tidaklah kalah pamor dengan pengajar yang normal penglihatannya..... Dan dalam kebutaannya pula beliau masih "tetap" dapat menulis di papan tulis untuk mengajari sains dan matematika kepada siswa yang les privat kepadanya..... terkenallah beliau kemudian sebagai seorang guru les privat "tuna netra" satu-satunya di jagat raya ini..... apakah semua syukur nikmat tersebut berawal dari nalar yang dituntun oleh untaian-untaian tulisan?..... tentu dengan menyimak ungkapan-ungkapan "fuad" yang beliau ungkapkan... maka inti dari semua kehebatannya tersebut adalah berawal dari rasa bersyukur atas kebutaan yang ditimpakan kepadanya... yang dengan tegas "rasa syukurnya" tersebut dilahirkan dari fuadnya sebagai salah satu indra untuk bersyukur yang dianugrahkan Alloh SWT kepada seluruh manusia... dan tentu bukan dari nalarnya... karena kemampuan nalar memerlukan "untaian tulisan" sebagai sarana meraih pengetahuan untuk bersyukur.... sementara setelah beliau "buta" maka tak mungkin lagi dapat menerima pengetahuan bersyukur tersebut dari media tulisan.
Maka bandingkanlah dengan sebagian besar manusia "normal penglihatannya" nan jenius.... Insinyur...doktor.. teknorat ...dan profesor.....yang dengan modal nalar nan briliannya tersebut dapat terciptalah berbagai teknologi canggih yang tak pernah dibayangkan sebelumnya..... dan dengan kehebatan teknologi ciptaannya... apakah tiba-tiba memudahkannya "bersyukur" atas anugrah ke-brilianannya?..... Faktanya ternyata dengan teknologi yang diciptakan para jenius dan brilian tersebut maka dunia fana ini lambat laun mendekati kehancuran.... dan inilah salah satu bukti dari "rasa tidak bersyukur" atau kufur nikmat dari kebanyakan manusia yang brilian nalarnya walau dianugrahi hamparan bumi Alloh yang penuh nikmat.... tetapi tak mampu "bersyukur" dengan nalarnya tersebut dalam menjaga bumi Alloh agar tetap lestari dan tetap dapat dinikmati anak cucu kita kelak....malah sebaliknya....dengan teknologi ciptaannya maka dunia perlahan tapi pasti mendekati kehancurannya..... Naudzubillah.
Cinta
(Kata Guru-Guruku)
Kata guru Biologiku,
Cinta seperti amoeba bersel satu Tidak dapat dilihat dengan mata telanjang
Kata guru Fisikaku,
Cinta bagai sumber listrik bertegangan tinggi
Bisa berbahaya kalau kita menyentuhnya secara langsung
Kata guru Matematikaku,
Cinta ibarat persoalan persamaan kuadrat
Ia selalu meminta jawaban Atas semua pertanyaannya yang sulit
Kata guru Kimiaku,
Cinta bak semua molekul terkecil
Sesuatu unsur yang tidak bisa dibagi-bagi lagi
Kata guru Geografiku,
Cinta identik dengan angin
Dapat diketahui keberadaannya dengan merasakan Kesejukannnya
Kata guru seni Musikku,
Cinta itu suatu rangkaian nada shahdu
Mengalun indah mengikuti irama lagu dan jiwa
Kata guru Seni Rupaku,
Cinta adalah sebuah lukisn abstrak perasaan
Menggambarkan warna-warni keindahan hidup
Kata guru bahasaku,
Cinta merupakan satu kata yang bermakana kompleks
Takkan selesai didiskusikan takkan tuntas jika dibahas
Kata guru PPKN-ku,
Cinta adalah pelajaran tentang bab kasih sayang
Tempat kita harus belajar untuk saling menghargai sesama
Kata guru sosiologiku,
Cinta bersifat universal
Berhak dan wajib dimiliki oleh semua manusia di dunia
Dan kata Pak Ustadz,
Cinta anugrah dari Allah YME
Dikaruniakan pada setiap makhluk bernyawa Di alam semesta.
Kata guru Biologiku,
Cinta seperti amoeba bersel satu Tidak dapat dilihat dengan mata telanjang
Kata guru Fisikaku,
Cinta bagai sumber listrik bertegangan tinggi
Bisa berbahaya kalau kita menyentuhnya secara langsung
Kata guru Matematikaku,
Cinta ibarat persoalan persamaan kuadrat
Ia selalu meminta jawaban Atas semua pertanyaannya yang sulit
Kata guru Kimiaku,
Cinta bak semua molekul terkecil
Sesuatu unsur yang tidak bisa dibagi-bagi lagi
Kata guru Geografiku,
Cinta identik dengan angin
Dapat diketahui keberadaannya dengan merasakan Kesejukannnya
Kata guru seni Musikku,
Cinta itu suatu rangkaian nada shahdu
Mengalun indah mengikuti irama lagu dan jiwa
Kata guru Seni Rupaku,
Cinta adalah sebuah lukisn abstrak perasaan
Menggambarkan warna-warni keindahan hidup
Kata guru bahasaku,
Cinta merupakan satu kata yang bermakana kompleks
Takkan selesai didiskusikan takkan tuntas jika dibahas
Kata guru PPKN-ku,
Cinta adalah pelajaran tentang bab kasih sayang
Tempat kita harus belajar untuk saling menghargai sesama
Kata guru sosiologiku,
Cinta bersifat universal
Berhak dan wajib dimiliki oleh semua manusia di dunia
Dan kata Pak Ustadz,
Cinta anugrah dari Allah YME
Dikaruniakan pada setiap makhluk bernyawa Di alam semesta.
Langganan:
Postingan (Atom)
Pengikut
Arsip Blog
-
▼
2010
(27)
- ► 01/10 - 01/17 (9)
- ► 01/17 - 01/24 (5)
- ► 02/07 - 02/14 (5)
- ► 02/21 - 02/28 (5)
Mengenai Saya
- PrincE_ArieF
- Indonesia
- Jika engkau ingin mencela orang lain,lihatlah dirimu terlebih dahulu. Baik mana antara dirimu sendiri dan orang yang kamu cela.
